Tampilkan postingan dengan label wisata bahari. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label wisata bahari. Tampilkan semua postingan

PULAU LANJUKANG



Pulau Lanjukang, atau disebut juga Pulau Lanyukang, atau Pulau Laccukang, merupakan pulau terluar yang berjarak 40 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Untuk menuju pulau ini dari kota Makassar, belum ada transportasi reguler, namun bagi wisatawan dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) dengan mesin 40 PK untuk 10 penumpang dengan biaya sewa Rp. 1.OOO.OOO,- (pulang-pergi) 

Bentuk pulau ini memanjang baratdaya - timurlaut, dengan luas mencapai lebih 6 ha, dengan rataan terumbu yang mengelilingi seluas 11 ha. Pada timur merupakan daerah yang terbuka dan terdapat dataran yang menjorok keluar (spit). Sedangkan di sisl barat bagian tengah, terdapat mercusuar. Vegetasi di pulau ini cukup padat, dengan sebaran pohon merata, didominasi oleh pohon pinus dan pohon kelapa serta pohon pisang dibagian tengah pulau.

Sarana umum yang tersedia masih relatif sangat terbatas. Fasilitas pendidikan dan kesehatan belum tersedia. Instalasi listrik dengan 2 buah generator hanya beroperasi antara pukul 17.30 - 21 .00 Wita. Terdapat sebuah sumur air payau di bagian tengah pulau untuk kebutuhan sehari-hari. Kita juga dapat menjumpai 2 buah warung kecil dengan barang dagangan yang sangat terbatas. Selain itu terdapat sebuah mushallah semi permanen. Pemukiman penduduk terkonsentrasi di sisi utara pulau yang relatif lebih aman pada musim timur dan barat.

Pulau ini belum dilengkapi dengan fasilitas dermaga kapal. Disisi bagian barat, pada surut terendah terdapat rataan terumbu karang yang mencapai jarak 1 km dan pada jarak 2 km terdapat daerah yang mempunyai kedalam yang curam hingga lebih 100 m. Wilayah perairan disisi selatan, timur, dan utara pulau ini merupakan alur pelayaran kapal.

Fasilitas resort sudah tersedia berupa 2 buah bangunan rumah batu semi permanen sebagai guest house bagi wisatawan ke pulau ini. Walaupun fasilitas sangat terbatas, bagi mereka yang menyenangi suasana alami, pulau ini ini salah satu tempat yang ideal bagi mereka yang ingin melakukan camping atau sekedar berjemur di pantai pasir putih yang indah dan bersih, atau bagi mereka yang gemar bersnorkling disekitar perairan pulau ini, panorama taman laut dan keanekaragaman biotanya dengan laut yang bersih menjadi daya tarik tersendiri.

Kondisi terumbu karang di sekitar pulau umumnya masih baik dan sangat menarik untuk kegiatan snorkling. Kita dapat menjumpai berbagai jenis spesies karang, karang lunak, ikan karang, dan ikan hias, serta biota lautnya. Umumnya, pulau ini dimanfaatkan oleh wisatawan pemancing sebagai tempat transit, sebelum meneruskan ke perairan Pulau Taka Bakang dan Pulau Marsende (wilayah perairan Kabupaten Pangkajene Kepulauan) untuk kegiatan "sport fishing"

Menyelam di Cakar Macan, Taman Nasional Taka Bonerate

 

Sumber Gambar KompasPotensi laut yang masih tertidur. Transportasi menjadi kendala pengembangannya. Meski dilingkupi alam yang ganas, tak luput dari pencurian. Kaki Reflina Imania Juwita berayun-ayun mengikuti irama dangdut sekadarnya. Malam itu menjadi penutup kunjungan di Taman Nasional Taka Bonerate, Selayar, Sulawesi Selatan. Reflina bersama enam kawannya dari Forum Penyelam Mahasiswa Indonesia (FPMI) bergabung dalam ekspedisi Taka Bonerate dalam rangka memperingati Sumpah Pemuda, 28 Oktober lalu.

Mereka menumpang KRI Surabaya menuju perairan Makassar. Untuk sampai Taka Bonerate, Reflina dan kawan-kawan menempuh 16 jam perjalanan lagi dari Makassar. Wilayah konservasi itu merupakan habitat terumbu karang atol terbaik di Indonesia. Ketiga terbesar di dunia setelah Kwajifein di Kepulauan Marshall dan Suvadiva di Kepulauan Maladewa. Atol adalah terumbu karang berbentuk cincin. Disebut juga terumbu karang cakar macan.

Reflina sangat senang bisa menyelam di atol yang membentang 530.765 hektare itu. Dia mengambarkan atol itu seperti tebing curam yang siap dijelajahi petualang. Di banyak tempat, mungkin karang dan biota lautnya hampir sama. Tetapi di sini berbeda.
Selain bentang karang, kejernihan airnya sangat memikat. "Seperti nggak pakai kacamata renang. Kayak nggak ada penghalangnya," kata mahasiswa Jurusan Perkapalan, Universitas Diponegoro, Semarang, itu. Pendidikan formal Reflina mengharuskan dia menjadikan laut sebagai rumah kedua.
Di geladak kapal, orang-orang ramai berjoget. Reflina dari kursi belakang sesekali bertepuk tangan. Wajahnya menghitam terbakar matahari. Maklum, dua hari dia menyelam di dua titik kawasan Pulau Rajuni dan Latondu. Dia menyelam hingga kedalaman 25 meter. Satu hingga tiga jam di dalam air, muncul, lalu menyelam kembali. Penyelaman baru usai senja hari.
Dia merasa tak cukup hanya menyelam dua hari. Sebab baru dua pulau yang disambangi. Padahal, totalnya ada 21 pulau dan 19 lokasi penyelaman yang di taman nasional itu.
Karakter pulau di Taman Nasional Taka Bonerate begitu landai dan berada 2 hingga 4 meter di atas permukaan air. Panjangnya 200 hingga 2.000 meter, dengan lebar 100 hingga 1.000 meter. Taman nasional ini juga memiki pasir putih yang halus. Bila menginjakkan kaki tanpa alas, akan terasa mengental seperti tepung.
Ketika musim angin timur, muncul puluhan hamparan pasir putih tanpa pohon yang disebut bungin atau gusung. Biasanya bungin digunakan nelayan untuk membangun rumah singgah guna mempercepat gerak mereka di laut. Rumah itu bertahan hingga dua bulan dan kembali tersapu gelombang bersama bungin ketika angin barat bertiup.
Selain karang dan pasir, pada musim angin timur, Juli hingga Desember, beberapa pulau kecil begitu riuh. Ratusan burung laut hiruk-pikuk dengan lengkingan khas, berseliweran dan menukik menangkap ikan. "Itu perjalanan migrasi yang menyenangkan," kata Nur Aisyah Amnur, ahli pengendalian ekosistem hutan taman nasional itu.
Burung-burung itu berasal dari pulau sekitar, seperti Flores, Ambon, serta dari Australia. Mereka terbang dengan gerombolan yang banyak. Bila berkumpul, seperti kampung burung. Biasanya burung-burung tadi tersebar di beberapa pulau yang punya garis pantai panjang.
Pada 1929, dalam buku Sebaran dan Perkembangan Terumbu Karang di Indonesia Timur, Molengraff menulis Taka Bonerate sebagai Tiger Island atau Atol Harimau. Masyarakat mempercayai nama itu bukan sembarang nama. Mereka mengibaratkan Taka Bonerate sebagai mulut macan. Salah sedikit memasuki perairan itu, boleh jadi tak bisa keluar. Ini barangkali terjadi lantaran keganasan alam dan kesulitan menjangkau taman laut tersebut.
Nyali besar memang dibutuhkan untuk mengarungi Taka Bonerate. Nur Aisyah mengatakan, kadang-kadang jolloro (perahu bercadik khas Sulawesi Selatan) terombang-ambing dipermainkan ombak. Tinggi gelombangnya mencapai 5 meter hingga 7 meter. Keadaan alam seperti itu menguntungkan karena orang-orang akan sulit menjamahnya.
Meskipun sulit terjangkau, bukan berarti taman nasional itu luput dari usaha pencurian. Pada tahun lalu, tercatat ada 11 pelanggaran. Mulai pencurian ikan yang dilindungi, pengambilan karang, pembiusan, hingga pengeboman. Menurut Nur Asiyah, pelanggaran di dalam kawasan itu mudah terjadi karena petugas keamanannya sangat terbatas. Polisi yang menjadi penjaga ada 22 orang, tapi yang aktif hanya delapan. Sisanya diperbantukan di Makassar.
Salah satu jenis karang yang sering dicuri dan diminati masyarakat adalah bambu laut. Warnanya kuning. Bila dipegang, begitu lembut dan mudah hancur. Pada umumnya, bambu laut tumbuh di kedalaman 3-10 meter. Kata Nur Aisyah, karang itu diambil masyarakat karena dipercaya dapat menyembuhkan beberapa penyakit dan dijadikan sebagai obat kuat.
Lalu pencurian ikan dilakukan dengan pembiusan. Padahal, cara ini merupakan salah satu faktor yang dapat mengganggu ekosistem kawasan, bisa membunuh ikan, plankton, hingga karang.
Pada saat ini saja, beberapa karang di sana mengalami pemutihan. Jika sudah memutih, karang itu akan hancur, berubah menjadi pasir. Jumlahnya memang belum banyak dibandingkan dengan karang yang masih hidup. "Mengenai luasan karang mati itu, kami belum bisa memastikan. Tapi dua tahun terakhir ini, pemutihan karang memang banyak," katanya.
Dia belum bisa merinci penyebab utama pemutihan karang itu. Apakah karena pembiusan, pengeboman, atau perubahan suhu air laut. Yang jelas, terganggunya lingkungan sekitar akan membuat karang mudah stres.
Karang bukanlah tumbuhan laut, melainkan hewan laut. Hewan yang membentuk karang adalah polip. Polip ini berada di tengah karang dan mengumpulkan zat kapur. Cara kerjanya sederhana. Pada kondisi lingkungan yang nyaman, polip akan tumbuh sehat. "Seperti simbiosis muatualisme, saling menguntungkan," ujarnya. Zat kapur yang dikumpulkan akan menjadi rumah yang aman bagi polip.
Merangsang pertumbuhan terumbu karang tidaklah mudah. Butuh waktu minimal 10 tahun. Itu pun dengan syarat: keadaan lingkungan baik, suhu dan kecepatan arusnya stabil, serta harus terlepas dari penangkapan ikan berlebih.
Semua kondisi itu menjadikan potensi bahari dan pusat pendidikan terus tertidur. Hingga kini, rencana pemerintah daerah menjadikan Taka Bonerate sebagai tempat wisata bahari seperti Bunaken dan Wakatobi masih sebatas rencana. Data statistik taman nasional mencatat, jumlah penduduknya 6.267 jiwa pada 2009, tersebar di pulau-pulau yang tak satu pun memiliki sumber air tawar.
Secara geografis, Taka Bonerate berada di Laut Flores. Dari Flores, hanya dibutuhkan dua jam perjalanan. Tapi, jika ditempuh dari Makassar dengan rute normal, perjalanannya bisa makan waktu hingga 18 jam. Enam jam perjalanan dari Makassar ke Pelabuhan Bira di Bulukumba. Berlanjut dengan feri ke Selayar selama enam jam juga. Dari Selayar menuju Taka Bonerate makan waktu yang sama.
Bila menggunakan kapal milik balai taman nasional setempat, pengunjung dikenai biaya Rp 500.000. Kemudian membayar sendiri dua anak buah kapal dan menanggung persediaan bahan bakar minimal pergi-pulang 500 liter. Angkutan yang khusus menuju Taka Bonerate memang belum ada. Sedangkan feri Selayar-Taka Bonerate cuma ada tiga kali sepekan.
Arloji menunjukkan pukul 22.00 waktu setempat ketika KRI Surabaya mengarungi lautan, meninggalkan kawasan Taka Bonerate. "Ini pengalaman pertama. Saya berharap bisa kembali ke Taka Bonerate dan mengunjungi spot penyelaman lainnya," kata Reflina. (tulisan Eko Rusdiyanto, dimuat pada rubrik Perjalanan, Majalah Gatra Nomor 1, November 2010)

Desa Wisata Lakkang Kini Menjangkau Dunia

 

Bersepeda menelusuri Desa Lakkang. (Erwin/Tempo)Makassar, Sungai Tallo yang tenang dan cokelat membuat kami tak was-was menelusuri perjalanan ke Desa Lakkang dari Dermaga Universitas Hasanuddin akhir pekan kemarin. Tak ada kekhawatiran tersirat di antara rombongan kami yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Sementara, Pak Tua mendekati saya, "sebenarnya banyak buaya di sungai ini," ia berbisik tanpa senyum.
Perjalanan menggunakan katinting (ucapan warga untuk perahu yang kami naiki) dari Dermaga Unhas ke Desa Lakkang hanya memakan waktu sekitar 10-15 menit. Di kiri kanan tepian sungai menghampar pohon Nipah kehijauan.
Satu-dua batang nipah sempat mengganggu putaran mesin tempel katinting dan pemilik katinting pun terpaksa mematikan mesin untuk membersihkan putaran baling-baling mesin. Menurut Pak Tua yang membisiki saya, buah nipah yang manis dan konon menjadi obat kuat kaum Adam telah lama menjadi konsumsi warga di sekitar Sungai Tallo.
Selain melalui Dermaga Universitas Hasanuddin, warga Desa Lakkang juga dapat keluar menuju Dermaga Tekkolo yang terhubung ke laut lepas. Dermaga ini, kata Andi M. Fara , Lurah Lakkang, berada di depan Benteng Rotterdam di pusat kota.
Desa Lakkang memang desa yang terisolir, dan menurut Hanz Matone - pemerhati pariwisata Sulawesi Selatan dan anggota Lingkar Penulis Pariwisata - inilah yang menjadi keunikan lokasi ini dan ia menentang ide untuk membangun jembatan penghubung ke lokasi yang menjadi paru-paru Kota Makassar itu. Keberadaan jembatan tersebut dinilai akan menghapus keunikan lokasi ini dan menjadi ancaman terhadap statusnya sebagai daerah konservasi alam dan budaya.
Desa Lakkang, kata Hanz, adalah hasil sebuah sedimentasi dan berada di tengah Kota Makassar. Desa ini memiliki berbagai potensi dan bisa dijual menjadi obyek wisata unggulan. Potensi yang dimiliki Desa Lakkang adalah potensi alam seperti pohon-pohon berusia ratusan tahun, empang, daerah pertanian di tengah kota, dan kawasan nelayan.
Desa ini juga berdekatan dengan kawasan industri Makassar sehingga dengan kealamiahannya diharapkan dapat menjadi paru-paru kota. Dengan potensi yang dimilikinya, kata Hanz, ada tiga konsep yang dapat dikembangkan untuk Desa Lakkang, yaitu sebagai konservasi, sebagai edukasi, dan tujuan rekreasi.
Lurah Lakkang Andi M. Fara mengakui daerahnya kini telah menjadi lokasi tujuan wisatawan mancanegara, khususnya Jepang. Para wisatawan Jepang tersebut menikmati buah-buahan unik di daerah ini serta tujuh titik bungker peninggalan Jepang.
Bungker-bungker pas ukuran orang dewasa itu dulunya merupakan tempat pelarian dan tempat penimbunan logistik Jepang. Akibat tertimbun, bungker yang pintunya pas seukuran orang dewasa itu terlihat seperti lubang-lubang kecil saja.
Desa Lakkang seluas 168 hektare. Andi mengatakan tempat ini telah dialiri listrik dan mendapat pasokan air dari PDAM. Desa ini ditinggali sekitar 300 keluarga atau sekitar 1.100 orang dan warganya berprofesi nelayan serta sebagian karyawan di Makassar. Untuk sampai ke desa ini memang satu-satunya melalui jalur air menggunakan perahu-perahu kecil.
Potensi yang dimiliki oleh Desa Lakkang rupanya menarik pihak swasta untuk ikut serta membangun lokasi terisolir ini. Vice President XL North Region Nuruddin Al Fitroh akhir pekan lalu (12/2) mengatakan pihaknya mendukung sepenuhnya program Desa Wisata Lakkang yang ditetapkan Pemerintah Kota Makassar.
Untuk mendukung penetapan Lakkang sebagai desa wisata itu, XL dalam program Coorporate Social Responsibility-nya membantu berbagai sarana infrastruktur di bidangnya, yaitu di bidang teknologi informasi dan komunikasi (ICT).
Dukungan XL meliputi empat bidang, yaitu pendidikan dengan donasi komputer dan internet ke warga desa, SD Negeri Lakkang dan kantor kelurahan, restorasi dan pemeliharaan situs bersejarah, pendidikan lingkungan dan pengembangan usaha kecil menengah. Selain itu XL menyerahkan satu katinting berkapasitas 15 penumpang serta satu unit telepon umum gratis.
Dengan infrastruktur tersebut Lakkang diharapkan akan diketahui oleh dunia. "Kami juga akan membantu melakukan pelatihan kepada yang berwenang untuk dapat meng-upload informasi tentang Lakkang ke Internet sehingga dapat diketahui oleh masyarakat dan dunia," ujar Nuruddin.
"Kami berharap dukungan dan dorongan dari XL ini akan mampu mewujudkan Lakkang Berprestasi yang sekaligus akan memberikan kontribusi pada kemajuan dunia pariwisata Makassar," tambah Nuruddin.
Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Kota Makassar Rusmayani Madjid menyambut langkah XL dalam pengembangan Desa Wisata Lakkang. "XL yang pertama kali menjalin kerja sama dengan Pemkot Makassar," ujarnya. Langkah itu terutama untuk mendukung program Visit Makassar 2011.
Hasan Kiong, 43 tahun, warga dan pemilik guest house yang difasilitasi XL, menyambut langkah penetapan desanya sebagai desa wisata serta dukungan fasilitas XL untuk guest house-nya. "Sekarang ini Lakkang sudah mulai dilirik wisatawan asing, seperti Jepang," ujar pria yang berprofesi sebagai nelayan itu.

PULAU KAYANGAN



Pulau Kayangan merupakan pulau koral yang paling dekat dengan Makassar, berbentuk bulat, berpasir putih, tidak berpenghuni, dengan luas mencapai 2 ha, termasuk dalam wilayah Kelurahan Bulo Gading Kecamatan Ujung Pandang. Berjarak 800 m dari Pelabuhan Soekarno Hatta, dan waktu tempuh ±15 menit dari dermaga Kayangan, dilengkapi dengan pelabuhan penyeberangan yang khusus diperuntukan bagi wisatawan yang akan berlibur di pulau ini, dengan biaya transportasi Rp. 20.000 perorang pulang. Perahu penyeberangan tersedia setiap 20 menit ke pulau dan membawanya kembali ke Makassar. Pulau ini dibuka hingga pukul 24.00 Wita.

Dulunya, pulau ini bernama Marrouw atau Meraux, dan dikelola sebagai resort dan tempat wisata bahari favorite sejak tahun 1964, Pulau ini juga mempunyai sistem keamanan 24 jam, didukung dengan fasilitas air tawar yang khusus didatangkan dari Kota Makassar. Pada tahun 2003 sempat ditutup, namun berselang beberapa bulan dibuka kembali. Saat ini, pulau kayangan telah direnovasi kembali dan dilengkapi sejumlah fasilitas tambahan agar memenuhi standar internasional.

Bagi masyarakat kota Makassar, pulau Kayangan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kota ini. Tersedia berbagai fasilitas di pulau ini, seperti tempat penginapan, pondokan, panggung hiburan, restoran, gedung serba guna, ruang pertemuan, tempat bermain bagi anak-anak, sarana olah raga, dan anjungan memancing serta kolam renang. Tempat ini merupakan salah satu alternatif utama bagi wisatawan yang ingin menikmati wisata bahari di Kota Makassar.

PULAU LAE-LAE KECIL


Pulau ini dikenal dengan nama P. Gusung oleh masyarakat Makassar. Berjarak kurang dari 1,6 km dari kota Makassar, dengan luas 2 ha dan berbentuk memanjang utara-selatan. Posisi pulau ini berada diantara Pulau Lae-lae dan Pulau Kayangan. Sebelumnya pulau ini hanya merupakan sand barrier (pulau gosong) dan dibangun oleh Pengelola Pelabuhan Makassar sebagai pemecah gelombang, sekaligus melindungi kawasan Pelabuhan selama musim Barat (Desember-Maret).

Pulau ini todak berpenghuni, dan tidak ada dijumpai pohon besar, kecuali rumput laut dan jenis tanaman perdu pantai lainnya. Pulau ini sekarang, telah berkembang menjadi salah datu tujuan lokasi wisata bahari bagi penduduk Makassar, seperti wisata pemancingan, atau tempat berenang atau sekedar tempat bersantai. Tersedia fasilitas ttransportasi reguler dengan biaya Rp. 7.500 per orang sekali jalan.

PULAU LAE-LAE


Pulau ini berhadapan langsung dengan pantai Losari, berjarak 2 km depan pantai Makassar, dengan luas 11 ha. Secara administrasi, Pulau Lae-Lae termasuk Kecamatan Biringkanaya. Pulau ini berbentuk persegi empat dan terdapat bangunan penghalang gelombang yang memanjang relative Utara – Selatan pada sisi barat pulau. Konsentrasi penduduk merata, dengan jenis bangunan rumah panggung dan rumah batu. Dibangun tanggul mengelilingi pulau, menyerupai bentuk segiempat, dan pada sisi selatan terdapat bangunan pemecah gelombang yang memanjang relative utara-selatan. Pada perang Dunia II, pulau ini difortifikasi oleh tentara Jepang sebagai pertahanan udara dan laut.

Masyarakat mulai mendiami pulau Lae-lae  pada tahun 1950-an. Penduduknya telah mencapai lebih 1500 jiwa, umumnya sebagai pelaut dan nelayan. Sejak ikan jenis kerapu menjadi komoditi ekspor yang bernilai tinggi, semakin banyak nelayan Lae-lae mengusahakan penangkaran kerapu untuk ekspor. Tersedia fasilitas transportasi reguer yang menghubungkan pulau ini dengan kota Makassar, dengan biaya Rp. 5.000 per orang sekali jalan.

Fasilitas umum yang dapat kita jumpai di pulau ini, sudah cukup memadai, seperti sebuah instalasi listrik dengan 2 buah generator yang beroperasi antara pukul 17.30-21.00 Wita, sebuah dermaga kayu, mesjid permanen, Sekolah dasar, Puskesmas dan Posyandu serta saluran sanitasi untuk sebagian pemukiman penduduk. Kebutuhan akan air bersih, masih disuplai dari kota Makassar, sedangkan untuk kebutuhan sehari mereka masih menggunakan air dari beberapa sumur di pulau ini.

Perairan sekitar Pulau Lae-Lae relatif dangkal, atau mempunyai kedalaman kurang dari 7.5 meter, kecuali pada bangunan Pemecah gelombang di sisi Timur Laut dengan kedalaman perairan hingga mencapai lebih 9 meter. Bagi mereka yang menyenangi untuk sekedar berjemur dan memancing untuk hiburan, Pulau ini sebagai salah satu tempat ideal untuk dikunjungi. Walaupun di pulau ini tidak tersedia resort, tetapi beberapa rumah penduduk menawarkan untuk dijadikan guest house.

PULAU SAMALONA


Pulau Samalona, secara administratif termasuk Kecamatan Mariso, berjarak 7 km dari kota Makassar, selain terkenal dengan pantai pasir putihnya juga memiliki tempat pemancingan. Pulau ini relatif berbentuk bulat, luas lebih 2 ha, dengan jumlah penduduk mencapai 82 jiwa. Belum tersedia transportasi reguler ke pulau ini, namun demikian para wisatawan dapat menyewa kapal motor 40 PK dengan jumlah penumpang 10 orang, sebesar Rp. 300.000,- (pergi-pulang).

Konsentrasi penduduk merata di tengah pulau, dengan bangunan rumah panggung. Pulau ini cukup rindang dengan sejumlah pohon besar yang terdapat di pulau ini, seperti pohon cina, tammate, dan pohon kelapa sedangkan pada sisi baratlaut terdapat hamparan pasir putih yang cukup luas, oleh pengunjung dimanfaatkan sebagai tempat bermain pantai. Di pulau ini, dapat dijumpai juga sebuah kompleks makam tua yang dikeramatkan oleh masyarakat Samalona, letaknya di sisi Utara pulau.

Kondisi ekonoml masyarakat setempat bergantung dari sektor pariwisata yang berkunjung ke Pulau Samalona. Fasilitas Yang tersedia di Pulau ini berupa instalasi listrik dari PLN dengan 4 buah mesin Pembangkit listrik yang beroperasi antara pukul 18.00-22.00 Wita, dan bila hari libur hingga pukul 24.00 Wita. Di pulau ini terdapat pula satu buah mushallah yang merupakan bantuan dari wisatawan lokal. Terdapat sebuah sumur dengan kondisi air yang payau di bagian tengah pulau, beberapa rumah panggung milik penduduk yang disewakan, dilengkapi dengan MCK.

Perairan di sekitar pulau mencapai kedalaman diatas 10 m, pada sisi Barat Laut terdapat mercusuar, gosong terdekat berada pada perairan sisi Tenggara yaitu Taka Bako (± 2 km). Bagi mereka yang menyenangi kegiatan berenang, pantai Samalona merupakan salah tempat ideal, namun sejumlah spot snorkling dapat dijumpai di perairan bagian barat P. Samalona. Pulau ini, sehingga pulau ini menjadi salah satu tempat yang paling digemari oleh masyarakat kota Makassar untuk sekadar menikmati putih atau berenang.

PULAU BARRANG CADDI



Pulau ini terletak di sebelah timur P. Barranglompo, berbentuk memanjang timurlaut – baratdaya, dengan luas 4 ha. Berjarak 11 km dari Makassar dan termasuk pulau yang padat penduduknya, dengan jumlah 1263 jiwa. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan tradisional, hal ini tercermin dari peralatan tangkap yang mereka gunakan masih sederhana, seperti bubu, pancing, rengge, dan lepa-lepa.

Fasilitas umum yang tersedia berupa instalasi listrik, penyaringan air laut menjadi air tawar (bantuan jepang) dan sebuah dermaga di sisi barat pulau ini. Untuk kesehatan, dapat dijumpai 1 Puskesmas Pembantu dan 1 Posyandu dengan seorang tenaga kesehatan dan seeorang dukun terlatih, sedangkan untuk pendidikan, terdapat Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama. Tersedia sarana transportasi reguler dari Makassar dengan biaya Rp. 6.000 per orang sekali jalan. Kedalaman perairan disekitar pulau ini umumnya besar dari 25 meter, sehingga menjadi bagian dari alur pelayaran masuk-keluar Pelabuhan Soekarno-Hatta, Makassar.

Konsep zonasi sudah diterpkan pada pemanfaatan ruang laut di perairan pulau ini. Seperti pada perairan sisi baratnya, merupakan daerah perlindungan yang dibagi atas beberapa zona, antara lain zona yang paling dekat dengan pulau disebut zona inti dan yang kearah laut lepas merupakan zona penyangga yang dicanangkan sekitar bulan Desember 2003 lalu. Kegiatan ini juga, merupakan usaha perlindungan terhadap ekosistem terumbu karang disekitar pulau Barrang Caddi yang diinisiatif oleh forum kemitraan bahari Sulaweai Selatan.

Obyek wisata budaya yang menarik di pulau ini adalah mengunjungi tempat pembuatan perahu tradisional pada sisi barat pulau ini, ataukah hanya sekedar melihat kehidupan sehari-hari masyarakat P. Barrang Caddi. Kalau kita beruntung, maka kita dapat menjumpai upacara penurunan kapal (apparoro), atau upacara pembuatan rumah atau kegiatan mesyarakat duduk bersama untuk membicarakan suatu hal.

Pada beberapa spot, kehidupan kondisi terumbu karangnya dijumpai dalam kondisi baik, beberapa spesies karang dan ikan perairan bagian barat. Tempat ini juga menarik bagi mereka yang hanya sekedar untuk melakukan snorking, walaupun sebagian karangnya ikut hancur akibat eksploitasi yang tidak ramah lingkungan.

PULAU BARRANG LOMPO

 

Pulau Barrang Lompo termasuk wilayah Kecamatan Ujung Tanah, dan berada di sebelah utara P. Barrang Caddi, dan berjarak 13 km dari Makassar. Pulaunya berbentuk bulat, dengn luas 19 Ha. Vegetasi yang umum tumbuh di pulau ini adalah pohon asam, pohon pisang dan pohon sukun, sedangkan pohon kelapa hanya dijumpai disisi timur dan barat pulau ini.

Konsentrasi pemukiman penduduk berada pada sisi Timur, Selatan, dan Barat dengan jumlah penduduk mencapai 3.563 jiwa dari 800 KK. Mayoritas penduduknya bekerja sebagai nelayan, dilengkapi kurang lebih 50 kapal kayu motor dan sekoci. Kondisi ekonomi masyarakatnya relatif sejahtera.

Fasilitas umum di pulau ini cukup maju dibanding pulau lainnya, tersedia transportasi reguler dari dan ke Makassar dengan kapal motor, biayanya Rp. 6.000,- per orang sekali jalan, sanitasi yang cukup baik, fasilitas pendidikan : 1 buah Taman Kanak-kanak (TK), dan 2 buah Sekolah Dasar. Pulau ini dilengkapi juga dengan fasilitas kessehatan berupa 1 buah Puskesmas dan sebuah lagi puskesmas pembantu dengan tenaga medis yang terdiri dari 1 orang dokter, 1 orang perawat, 1 orang mantri, dan 1 orang bidan. Instalasi listrik dengan 2 generator yang berkapasitas 360 KVA yang beroperasi pada pukul 18.00 - 06.00 WITA. Jalan-jalan utama dibuat dari paving blok. Fasilitas air yang baik dan memiliki 2 buah dermaga (tradisional dan semi permanen), dan di pulau ini terdapat "Marine Field Stasiun Universitas Hasanuddin". 

Tradisi masyarakat yang masih dijumpai di pulau ini adalah upacara Lahir Bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, upacara Pa'rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, dan upacara Karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Selain makam-makam tua dari abad ke XIX yang terdapat di pulau ini sebagai obyek wisata budaya yang menarik dikunjungi, juga kios tempat pembuatan cindera mata dari kerang laut, berada tepat didepan dermaga utama. Pada beberapa spot di perairan pulau ini, kehidupan karang dan ikan karang umumnya masih baik, walaupun ada sebagian karangnya sudah ikut hancur akibat eksploitasi yang tidak ramah lingkungan.

PULAU KODINGARENG KEKE



Pulau ini terletak disebelah utara P.Kodingareng Lompo, dan berjarak 14 km dari Makassar. Bentuk pulaunya memanjang timurlaut - baratdlaya, dengan luas ± 1 Ha. Pada sisi selatan pulau, pantainya tersusun oleh pecahan karang yang berukuran pasir hingga kerikilan, sedangkan pada sisi utara tersusun oleh pasir putih yang berukuran sedang-halus dan bentuknya berubah mengikuti musim barat dan timur. Tidak tersedia transportasi reguler menuju pulau ini, namun dapat menngunakan perahu motor carteran (sekoci), 40 PK dengan biaya Rp. 500.000,- (pergi-pulang)

Tidak tercatat adanya penduduk di pulau ini, namun dalam 7 tahun terakhir ini  terdapat beberapa bangunan peristirahatan semi permanen bagi wisatawan yang berkunjung ke pulau ini. Bangunan dikelola oleh seorang warga negara Belanda, dan telah menanam kembali beberapa pohon pinus. Pada sisi barat terdapat dataran penghalang yang terbentuk akibat proses sedimentasi yang tersusun atas material pecahan koral. Ada pasang terendah, terdapat dataran yang cukup luas dibagian barat pantai. Perairan sebelah baratlaut merupakan daerah yang cukup luas dengan kedalaman kecil dari 5 meter hingga mencapai 2,5 km dari garis pantai, sedangkan di perairan sebelah timur dan selatan merupakan alur pelayaran masuk dan keluar dari pelabuhan Samudera Makassar.

Tersedia fasilitas resort standar bagi wisatawan, dan perairan di sekitar pulau ini merupakan tempat yang ideal bagi mereka yang menyenangi snorkeling. Kondisi terumbu karangnya umumnya terjaga dengan baik, dengan ikan-ikan karangnya yang cantik membuat panorama bawah lautnya semakin asri. Bagi anda yang tidak menggemari snorkling/diving, dapat anda menikmati hamparan pasir putihnya.

PULAU KODINGARENG LOMPO

 
Pulau ini termasuk dalam Kelurahan Kodingareng, Kecamatan Ujung Tanah, Kota Makassar, dan berjarak 15 km dari Makassar. Bentuknya relatif memanjang Utara - Selatan, pada sisi Selatan tedapat dataran yang memanjang menjorok keluar (spit), pulau ini mempunyai luas 14 Ha. Untuk menuju pulau ini dari Makassar, tersedia transportasi regular dengan biaya Rp. 6.000,- per penumpang sekali jalan dengan menggunakan Kapal motor. Tersedia juga perahu motor carteran (sekoci) 40 PK, dengan biaya Rp.400.000,- (pulang-pergi).

Jumlah penduduk di pulau ini t 4170 jiwa, dengan mata pencaharian 90% sebagai nelayan, 9% pa'balong dan sisanya usaha lainnya. Alat tangkap yang dominan adalah pancing dan purse. Konsentrasi penyebaran penduduk merata, dengan jenis bangunan rumah panggung dan rumah batu. Pada sisi timur terdapat 2 buah dermaga yang berdekatan, yaitu : dermaga kayu buat kapal motor (regular) dan Speed Boat.

Fasilitas di pulau ini cukup maju dibandingkan dengan pulau- pulau lainnya. Instalasi listrik dengan generator yang beroperasi selama 12 jam. Terdapat 2 buah Sekolah Dasar, 1 buah taman kanak-kanak, sarana ibadah : 2 buah mesjid dan 2 buah musalla, dengan Fasilitas kesehatan berupa 1 buah posyandu bantu, juga terdapat pos obat desa (POD) melalui program NGO Plan Internasional dan terdapat 1 buah lapangan sepak bola. Perairan sebelah Timur, Utara dan Selatan memiliki kedalaman diatas 20 m pada jarak antara ± 0,2 mil sedangkan perairan disebelah Barat pada jarak ± 4,5 mil dari pantai mempunyai kedalaman 20 m.

Panorama bawah air yang asri masih dapat dijumpai di beberapa spot di wilayah perairan pulau ini. Sejumlah jenis biota yang dapat kita jumpai diperairan ini, adalah : bulubabi, ubur-ubur, kepiting, bintang laut, beberapa jenis ikan, seperti: beseng-beseng giru, leto-leto, cepa, belawas (sejenis baronang)

PULAU BONETAMBUNG


Pulau ini berbentuk bulat, dengan luas 5 Ha, atau berjarak 18 km dari Makassar. Posisinya berada di sebelah timur P. Langkai. Perairan sebelah utara dan timur merupakan alur pelayaran pelabuhan, dengan kedalaman lebih dari 40 meter (± 900 meter dari pantai), perairan sebelah barat terdapat rataan terumbu karang, pada bagian luar sekitas 1 km terdapat kedalaman besar dari 20 m, dan pada sebelah baratdaya sekitar 1 km terdapat daerah yang sangat dangkal dengan kedalaman kurang dari 5 meter. Belum tersedia transporatasi reguler ke pulau ini, dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya sebesar Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

Pemukiman penduduk tersebar merata di pulau ini, dengan jumlah 481 jiwa. Vegetasi umum dijumpai adalah pohon kelapa. Beberapa kebiasaan yang sering dilakukan masyarakat, adalah upacara Lahir bathin yakni mensucikan diri sebelum masuk bulan Ramadhan, Upacara Songkabala yakni upacara untuk menolak bala yang akan datang, dan upacara Pa’rappo yakni upacara ritual yang dilaksanakan oleh para nelayan sebelum turun ke laut, serta upacara karangan yakni upacara ritual yang dilakukan oleh para nelayan ketika pulang melaut dengan memperoleh hasil yang berlimpah.

Kondisi ekonomi masyarakat relatif baik dimana mata pencaharian utamanya adalah sebagai nelayan (90%) khususnya nelayan ikan kerapu Untuk mendukung sarana transportasi laut dipulau ini, telah dibangun dermaga pada sisi selatan pulau, selain fasilitas dermaga, terdapat 1 buah sekolah dasar (SD) dan 1 buah Puskesamas pembantu dengan tenaga medis 1 orang mantri, 1 orang suster dan 1 orang dukun, sanitasi lingkungan di pulau ini belum tersedia.

Kita juga dapat menjumpai sebuah masjid hasil swadaya masyarakat dan fasilitas olahraga yakni lapangan bola dan volley. Sebuah instalasi lidtrik dengan generator yang beroperasi padad pukul 18.00 – 22.00 wita melengkapi fasilitasv di pulau ini. Kepiting, crustasea, molusca, cacing pasir, kerang-kerangan, bintang laut, bulu babi, beberapa jenis ikan, seperti ; cumi-cumi, baronang, papakulu (ayam-ayam), mairo (teri), katamba, dan banyar merupakan biota yang umumnya dijumpai diperairan pulau ini. Sejumlah terumbu karang telah rusak, namun masih dapat dijumpai panorama bawah laut yang masih asri untuk lokasi snorkling. Disamping itu, upacara ritual masyarakatnya dapat menjadi atraksi wisata budaya bagi wisatawan.

PULAU LUMU-LUMU

Pulau Lumu-lumu berjarak 28 km dari kota Makassar, termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Posisi pulau ini berada di sebelah timur P. Lanjukang, dan merupakan pulau terdekat dari tiga pulau terluar Makassar. Untuk menuju pulau ini, belum tersedia transportasi reguler, hanya tersedia perahu carteran (sekoci) 40 PK dengan biaya Rp. 600.000,- (pergi-pulang).

Pulau ini berbentuk bulat, memanjang barat laut-tenggara. Sebaran terumbu karang yang mengelilingi pulau ini dengan kedalaman kurang dari 1 m, dan sebagian besar berubah menjadi daratan pada kondisi surut minimum. Perairan sebelah timur dan utara, merupakan alur pelayaran dengan kedalaman besar 30m, sedangkan perairan sebelah selatan sekitar 2 km dari pulau merupakan daerah gosong dengan kedalaman 5 m, kedalaman perairan antara gosong dan perairan sebelah barat P. Lumu-lumu hingga mencapai besar dari 30 m.

Walaupun luas pulau ini hanya 3,75 ha, atau hampir setengah dari luas P. Lanjukang, namun jumlah penduduknya mencapai 984 jiwa atau 30 kali dari P. Lanjukang. Pulau ini merupakan pulau terpadat penduduknya dengan tingkat kepadatan 262 jiwa setiap ha dan tersebar merata di seluruh pulau. Tidak banyak pohon dijumpai di pulau ini. Pohon yang terdapat di pulau ini: pohon kelapa, pohon kayu cina yang menempati sisi utara, barat dan selatan.

Jumlah masyarakat sejahteranya mencapai 90%, dengan mata pencarian utamanya sebagian nelayan, yang hanya menangkap ikan yang memiliki nilai jual tinggi seperti ikan sunu (grouper) dan ikan karang lainnya. Tingkat kesejahteraan masyarakat pulau ini juga tercermin dari peralatan tangkap yang digunakan sudah lebih maju dibanding nelayan tradisional, dengan menggunakan jaring insang (gill net).

Sebuah dermaga kayu terletak pada sisi timur untuk menunjang aktifitas keluar masuknya perahu. Terdapat sebuah masjid permanen, sebuah Sekolah Dasar dan sebuah puskesmas pembantu dengan satu orang suster, pos yandu 1 buah dan dukun beranak sebanyak 2 orang. Banyak dijumpai sumur dengan air payau dan hanya digunakan untuk kebutuhan mencuci dan mandi, sementara rumah penduduk belum banyak dilengkapi dengan jamban. Instalasi listrik dari PLN dengan 2 buah generator yang beroperasi antara pukul 18.00 - 22.00 Wita, dan tersedia fasilitas telekomunikasi.

Biota yang terdapat di pesisir pulau, adalah: padang lamun, rumput laut, kepiting, keong laut, cacing pasir, teripang, sedangkan diperairan sekitar pulau.terdapat beberapa jenis ikan, karang lunak, karang keras, dan padang lamun.

PULAU LANGKAI


Pulau Langkai berjarak 36 km dari kota Makassar, merupakan salah satu dari tiga pulau terluar Makassar dan termasuk Kelurahan Barrang Caddi, Kecamatan Ujung Tanah. Posisi pulau ini berada 5,5 km di selatan Lanjukang, dan luas mencapai lebih dari 27 ha., dengan rataan terumbu yang mengelilingi seluas 142 ha.
Sebuah dermaga perahu tendapat di sebelah utara pulau ini. Belum tersedia transportasi rejuler untuk menuju pulau ini, dapat menggunakan perahu carteran (sekoci) dengan biaya sebesar Rp. 750.000.,- (pergi-pulang). Pulau ini cukup padat penduduknya, dengan jumlah mencapai 430 jiwa (127 KK), berasal dari suku Bugis (Maros, Pangkep) sebanyak 80%. dan 20% sisanya dibagi merata dari suku Mandar, suku Makassar (Takalar, Makassar, Gowa). Mata pencaharian utama penduduk Pulau Langkai adalah sebagai nelayan pancing 55%, nelayan dengan menggupakan pukat/jaring 31%, dan sebagai pengrajin perahu 5%, serta sebagian kecil sebagai pedagang/kelontong, guru dan Pegawai Negeri.

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Macys Printable Coupons